morowali

sejenak ke Morowali

Yogyakarta

Petualangan di Merapi

Ambon

Bandara Pattimura Ambon.

Toraja Utara

sekilas ke Toraja Utara

Bitung

Mampir ke Bitung

Monday, September 29, 2014

Tidak ada kebahagiaan Dunia dan Akhirat kecuali dengan ......






Sebuah Kenikmatan yang terbesar adalah ketika Allah menjadikan kita sebagai seorang yang beragama islam. Yang tidak ada kebahagian didunia dan diakhirat kecuali dengan memeluk agama islam, agama yang satu-satunya diridhai disisi Allah hanyalah islam yang tidak diterima selain dari agama islam.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ

“ Sesungguhnya agama yang diridhai disisi Allah hanyalah islam “ (Qs. Ali Imran : 19)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا

 “ Pada hari ini telah ku sempurnkan untuk kamu agamamu, dan telah ku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah ku ridhai islam sebagai agama bagimu “ (Qs. Al Maidah : 3)


أَفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“ Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain Agama Allah, padahal apa yang dilangit dan dibumi berserah diri kepada – Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Nya mereka dikembalikan? (Qs. Ali Imran : 83)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“ Dan barangsiapa mencari agama selain islam, dia tidak akan diterima dan diakhirat dia termasuk orang yang merugi ” (Qs. Ali Imran : 85)
وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“ Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Qs. Ali Imran : 102)
Inilah nikmat yang terbesar dan teragung yang Allah berikan kepada kita yang harus kita jaga, yaitu kita dijadikan sebagai seorang muslim. Yang tidak ada kebahagian didunia dan akhirat kecuali dengan memeluk agama islam. Maka wajib bagi kita untuk mengenal dan memahami agama islam dengan pemahaman yang benar. Bahkan hal itu sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang muslim dan muslimah.

Lalu apa itu pengertian islam ? Islam adalah : “ Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya, tunduk kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya “ (Kitab Al Ushulus Tsalah, Syaikh Muhammad At Tamimi)


Inilah pengertian islam yang harus kita pahami, yaitu mengandung tiga hal.

Pertama : “ Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya

Yaitu berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan Nya didalam rububiyahNya (penciptaan, pemberi rezeki dan pengaturan), didalam uluhiyahNya (menyerahkan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata) dan didalam asma (nama-nama) dan sifatNya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepada Allah semata

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Dari pengertian diatas keluarlah dua kelompok manusia :

Kelompok pertama adalah Orang yang berserah diri kepada Allah dan juga berserah diri kepada selain Allah. Yaitu dia berserah diri kepada Allah disatu sisi dengan beribadah kepada Nya seperti sholat, puasa dan ibadah lainnya, tapi disisi lain dia juga beribadah kepada selain Allah dengan menyembah kuburan misalnya, atau berdoa kepada selain Allah, atau menyembelih hewan untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada selain Allah. Maka orang seperti ini bukanlah orang islam akan tetapi orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman :

وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

” Dan diadakanya sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Nya, katakanlah, “ bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu, sungguh kamu termasuk penghuni neraka.” ( Qs. Az-Zummar : 8 )

ومَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

” Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukkan ( sesuatu dengan ) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah  neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang – orang dzolim itu.” ( Qs. Al Maidah : 72 )

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“ Sungguh orang – orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk ) neraka jahannam, mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk “ ( Qs. Al Bayyinah : 6)

Kelompok kedua adalah Orang yang tidak berserah diri kepada Allah dan juga kepada selain Allah, meraka itu adalah orang – orang kafir, seperti fir’aun pada masa lalu dan atheis pada zaman sekarang. (silahkan lihat muqadimah duruus Nawaqid al-Islam, Syaikh Shlih al-Fauzan)
Adapun seorang Muslim adalah orang yang berserah diri hanya kepada Allah semata dengan beribadah hanya kepadaNya dan tidak kepada selainNya.


Kedua : Tunduk Kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada Nya.

Tidak cukup seseorang hanya mengatakan dirinya berserah diri kepada Allah tanpa ada ketaatan kepada Nya. Bahkan wajib bagi dia untuk tunduk kepada Allah dengan ketundukkan hati, lisan dan anggota badanya. Dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya, seperti melaksanakan sholat lima waktu, shaum (puasa) pada bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan ketaatan lainnya. Para Ulama membagi ketundukkan menjadi dua macam :
Berkata Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri hafidzahullah : “ Tunduk kepada Allah dan ketundukkan ini jika dengan dzhiran (lahiriah/anggota badan) dan ketundukkan bathin (hati) maka itu adalah amalan orang-orang yang beriman. Dan jika hanya tunduk dengan ketundukkan dzhair saja maka itu adalah perbuatan seorang munafik. Akan tetapi ketundukkan yang benar yaitu mencakup ketundukkan dzahir dan bathin.”(Ithaful Uquul bi syarh ats – Tsalasatil Ushuul :95)

Ketiga : Berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya

Yaitu berlepas diri dari peribadatan kepada selain Allah dan para pelakunya. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim alaihi wasallam :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ

“ Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “ Sesunguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (Qs. Al Mumtahanah : 4 )
Inilah penjelasan sederhana tentang kewajiban seorang hamba mengenal agamanya. Dengan  tujuan dari pengenalan tersebut yang membuahkan dari mengamalkan syariat islam. Karena islam adalah agama yang haq (benar) yang Allah meridhainya untuk kita, dan kita beribadah kepada Allah dengan menjalankan syariat islam.
ditulis oleh  Abu Ibrahim ‘Abdullah Bin Mudakir

Sunday, September 28, 2014

PERBEDAAN SUNII DEGAN SYIAH




17 PERBEDAAN SUNII (ASWAJA) DGN SYIAH

Oleh Von Edison Alouisci (Islam Sunii Madzab Syafi`i)

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Syafi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.
Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya. Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah). Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri. Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

 1. Rukun Islam
Rukun Islam Ahlussunnah kita ada 5:
1.    Syahadatain
2.    As-Sholah
3.    As-Shoum
4.    Az-Zakah
5.    Al-Haj
Rukun Islam Syiah juga ada 5 tapi berbeda:
1.    As-Sholah
2.    As-Shoum
3.    Az-Zakah
4.    Al-Haj
5.    Al wilayah

2. Rukun Iman
Rukun Iman Ahlussunnah ada enam:
1.    Iman kepada Allah
2.    Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
3.    Iman kepada Kitab-kitab Nya
4.    Iman kepada Rasul Nya
5.    Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
6.    Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Rukun Iman Syiah ada 5 :
1.    At-Tauhid
2.    An Nubuwwah
3.    Al Imamah
4.    Al Adlu
5.    Al Ma’ad
3. Syahadat



3. Syahadat
.Ahlussunnah mempunyai Dua kalimat syahada, yakni: “Asyhadu An La Ilaha Illallah wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”.
Syiah mempunyai tiga kalimat syahadat, disamping “Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Imamah
Ahlussunnah meyakini bahwa para imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.
Syiah meyakini dua belas imam-imam mereka, dan termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Khulafaur Rasyidin
Ahlussunnah mengakui kepemimpinan khulafaurrosyidin adalah sah. Mereka adalah: a) Abu Bakar, b) Umar, c) Utsman, d) Ali radhiallahu anhum
Syiah tidak mengakui kepemimpinan tiga Khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman), karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Kemaksuman Para Imam
Ahlussunnah berpendapat khalifah (imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum. Mereka dapat saja berbuat salah, dosa dan lupa, karena sifat ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi. Sedangkan kalangan syiah meyakini bahwa 12 imam mereka mempunyai sifat maksum dan bebas dari dosa.

7. Para Sahabat
Ahlussunnah melarang mencaci-maki para sahabat. Sedangkan Syiah mengangggap bahwa mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa, bahkan berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Sayyidah Aisyah
Sayyidah Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai oleh Ahlussunnah. Beliau adalah termasuk ummahatul Mu’minin. Syiah melaknat dan  mencaci maki Sayyidah Aisyah, memfitnah bahkan mengkafirkan beliau.

9. Kitab-kitab hadits
Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Tirmidz, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An-Nasa’i. (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).
Kitab-kitab hadits Syiah hanya ada empat : a) Al Kaafi, b) Al Istibshor, c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih, dan d) Att Tahdziib. (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).
10. Al-Quran
Menurut Ahlussunnah Al-Qur’an tetap orisinil dan tidak pernah berubah atau diubah. Sedangkan syiah menganggap bahwa Al-Quran yang ada sekarang ini tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).
11. Surga
Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya. dan Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya. Menurut Syiah, surga hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Dan neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Raj’ah
Aqidah raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah ialah besok di akhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.
Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah, dimana diceritakan bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali, sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri, yang berlainan dengan Imam Mahdi yang diyakini oleh Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.
 13. Mut’ah
Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram. Sementara Syiah sangat dianjurkan mut’ah dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.
 14. Khamr
Khamer (arak) najis menurut Ahlussunnah. Menurut Syiah, khamer itu suci.
 15. Air Bekas Istinjak
Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci, menurut ahlussunnah (sesuai dengan perincian yang ada). Menurut Syiah air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.
 16. Sendekap
Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah. Menurut Syiah meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri sewaktu shalat dapat membatalkan shalat. (jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah dan batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).
 17. Amin Sesudah Fatihah
Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah. Menurut Syiah mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah dan batal shalatnya. (Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).
Demikian telah kami nukilkan beberapa perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Sumber : berbagai artikel, tulisan di google.

Bahaya Laten Syiah






Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Syiah menjadi bahaya laten yang mengancam cukup serius di negara kita. Maka dari itu,bekal yang paling penting untuk menghadapi mereka adalah bertafaqquh fiddin, mempelajari ilmu agama Islam dengan benar yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para ulama salaf, generasi terbaik umat ini.

Ilmu akidah adalah ilmu yang paling penting bagi setiap muslim. Sebab, akidah adalah fondasi dan pilar-pilar yang dibangun di atasnya bangunan-bangunan Islam lainnya. Akidah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan tameng untuk menjaga seorang muslim dari penyimpangan, kesesatan, dan kesyirikan.
Seluruh kaum muslimin hendaknya tidak mencoba untuk menelaah pemikiran-pemikiran mereka atau mendengar syubhat-syubhatnya. Sungguh, akan menjadi musibah yang besar manakala seseorang membaca dan meneliti serta mendengar syubhat-syubhat kelompok Syiah sedangkan pemikirannya kosong dari akidah yang benar. Hal itu akan menyeretnya kepada penyimpangan.

Begitulah akidah dan paham-paham yang menyimpang. Ia tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang bodoh. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

{وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (140)} [النساء: 140]

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (al-Qur’an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain….” (an-Nisa: 140)

Para ulama telah menetapkan melalui tafsiran dari ayat ini bahwa tidak diperbolehkan mendengarkan perkataan orang yang menyimpang, sesat, dan ahli bid’ah, serta tidak boleh duduk bersama mereka. Sebab, apabila mendengarkannya, seseorang akan terlibat bersama mereka dalam dosanya. Selain itu, bisa jadi mereka akan meniupkan racun (syubhat) kepada dirinya. Inilah musibah yang menimpa agama seseorang.
Generasi muda kaum muslimin hendaknya tidak menyepelekan bahaya laten Syiah yang terus menggerogoti umat. Sebab, tidaklah mereka tinggal di suatu negara melainkan akan meniupkan api, membakar setiap yang basah dan kering, serta mengembuskan racunnya. Kelompok Syiah siap menggelontorkan materi dan dana kepada kaum muslimin asalkan mereka mau mengambil akidahnya, mengambil akhlaknya, bahkan agamanya. Inilah yang perlu diwaspadai.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dalam nasihatnya menghadapi kelompok Syiah Rafidhah, menegaskan, “Kami menasihati seluruh kaum muslimin agar tidak tertipu olh seruan-seruan kelompok Syiah. Sebab, segala seruan mereka yang mengatasnamakan Islam, tidak berdasar dan tidak benar. Semuanya masuk dalam kerangka perbuatan munafik. Mereka adalah para munafik dan tukang taqiyyah. Siapa yang melihat kitab-kitabnya, pasti mengetahuinya. Kaum mukminin dan muslimin semestinya mengetahui bahwa seruan (Republik Islam Iran), semua itu tidak ada hakikatnya. Tampak dari luar saja seperti Islam, namun batinnya menyelisihi Islam. Batinnya adalah watsaniyyah (penyembahan terhadap berhala) dan permusuhan terhadap Islam serta seluruh para sahabat, serta tidak menampakkan keridhaan kepada mereka. Yang ada, mereka malah mengafirkan dan memvonis fasik para sahabat, kecuali sebagian kecil saja. Intinya, Khomeini dan para pengikutnya adalah tokoh-tokoh (Syiah) Rafidhah, pengagum akidah Rafidhah dan berpegang teguh dengannya. Mereka mengagungkan imam yang dua belas serta mengklaim bahwa imam-imam itulah yang paling berhak atas predikat imam dan mendapatkan kepemimpinan, dan yang paling tingginya adalah Ali Radhiyallahu ‘anhu. Mereka tidak mengakui kepemimpinan yang lain dan menganggapnya batil.

Benar bahwa Ali Radhiyallahu ‘anhu, ialah seorang imam yang saleh, khalifah keempat setelah tiga khalifah sebelumnya, sahabat yang paling utama setelah tiga sahabat sebelumnya. Demikian juga al-Hasan dan al-Husein, merupakan sahabat, semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala meridhainya. Akan tetapi, mereka tidak menjadi pemimpin, kecuali al-Hasan menjadi pemimpin sebentar kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu. Sementara itu, al-Husein sama sekali tidak menjadi pemimpin. Orang-orang Rafidhah (Syiah) tidak memiliki ilmu pengetahuan, tidak ada pada diri mereka kecuali klaim-klaim yang tidak berdasar.” (www.binbaz.org)

Salah satu pintu menyesatkan umat yang dilakukan oleh kelompok Syiah adalah slogan “cinta Ahlul Bait”. Maka dari itu, seorang muslim tidak boleh tertipu ketika kaum Syiah mengawali pembicaraannya dengan hal itu. Mereka adalah orang-orang yang sudah ada penyimpangan dalam hatinya.  Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya,

{فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِه} [آل عمران: 7]
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya….” (Ali Imran: 7)
Yang dapat membentengi kita dari kesesatan Syiah adalah dengan mengetahui akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan senantiasa merujuk kepada tafsiran-tafsiran para salaf, serta kembali kepada para ulama rabbani.

Menurut akidah Ahlus Sunnah, tidak ada seorang imam yang diagungkan, yang diambil semua perkataannya dan ditinggalkan semua yang menyelisihannya, selain RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam. Keistimewaan ini tidaklah ada pada imam-imam yang lain. Setiap orang dapat diambil perkataannya dan ditinggalkan, tidak ada yang maksum selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ahlus Sunnah mengikuti jalan para pendahulu dari kalangan sahabat. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman,

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100)} [التوبة: 100]
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya  sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Ahlus Sunnah selalu menjaga lisan dan hatinya terkait dengan para sahabat  RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,

{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (10)} [الحشر: 10]
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar),mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”(al-Hasyr: 10)

Sebagai bentuk ketaatan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,
 ا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat- sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, andai salah seorang dari kalian berinfak dengan emas seperti Gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan dapat menyamai infak salah seorang dari mereka walau satu mud, tidak pula setengahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ahlus Sunnah menerima apa yang datang dari Kitabullah dan Sunnah RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam serta apa yang telah menjadi konsensus (ijma’) yang terkait dengan keutamaan dan kedudukan para sahabat.

Kelompok Syiah tidak jujur dalam klaimnya sebagai pecinta Ahlul Bait, karena pada kenyataannya mereka tidak mencintai Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tidak pula Ahlu Bait Ali Radhiyallahu ‘anhu. Mereka tidak mengambil petunjuknya, tidak mengikuti jalannya, tidak menaati perintahnya. Mereka justru menentang dan menyelisihinya, bahkan dengan terang-terangan hal itu mereka lakukan terutama kepada al-Khulafa ar-Rasyidin, Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam), dan seluruh sahabat beliau Radhiyallahu ‘anhum.

Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada para sahabat. Al-Qur’an pun memberi rekomendasi tentang keimanan yang sesungguhnya pada diri mereka. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)} [الفتح: 29]

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

{لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (117) } [التوبة: 117]
“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka.” (at-Taubah: 117)

{وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (74)} [الأنفال: 74]
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.” (al-Anfal: 74)
Wallahu a’lam.
(Majalah Asy Syariah edisi 102, hlm. 28–31)

Friday, March 16, 2012

Sholat di atas pesawat



Pertanyaan :

Bagaimana cara sholat di atas pesawat ? Berapa jarak safar yang dengannya dibolehkan meng-qashar sholat dan meninggalkan puasa ?

Jawab :

Al-Imam Al-Albani rahimahullah menjawab,

“Safar itu dimulai dari keluarnya seseorang dari negeri/daerahnya, terhitung dari batas daerahnya. Tentang sholat di atas pesawat, orang yang biasa naik pesawat di zaman sekarang ini akan menyaksikan bahwa pesawat memiliki kelebihan dari sisi kenyamanan di mana penumpangnya tidak merasa sedang terbang diantara langit dan bumi.

Beda halnya dengan kapal laut, dimana terkadang memberikan goncangan kepada penumpangnya, lebih besar daripada goncangan pesawat. Karena itu orang yang mengendarai pesawat, bila memang pesawatnya besar, luas dan lapang, ia akan mendapati tempat kosong yang disitu ia bisa berdiri dan duduk saat mengerjakan sholat.

Inilah yang wajib berdasarkan kaidah yang telah lewat penyebutannya : “Bertaqwalah kalian kepada Alloh semampu kalian.”

Termasuk kewajiban yang harus diperhatikan oleh orang yang ingin sholat di atas pesawat adalah memerhatikan pada awal sholatnya dimana arah kiblat, bila memang memungkinkan untuk mengetahuinya, kemudian ia sholat menghadap kiblat tsb. Setelah itu tidak menjadi masalah pesawatnya menghadap ke mana saja, mengarah ke kiri atau kanan. Ia tetap melanjutkan sholatnya sesuai dengan arah awal ia menghadap (walaupun ternyata tidak lagi menghadap kiblat karena arah pesawat telah berubah, pent).

Yang penting, ada dua perkara yang harus diperhatikan oleh penumpang pesawat, penumpang kapal atau penunggang hewan.

Pertama : Bila mampu untuk berdiri dan duduk dalam sholat, hendaklah ia melakukannya. Bila memungkinkan baginya untuk turun dari kendaraannya seperti orang yang mengendarai mobil, hendaknya ia turun dan sholat sebagaimana biasanya.

Kedua : Ia memulai sholatnya diatas kendaraan yang ditumpanginya dengan menghadap kiblat, setelah itu tidak menjadi masalah bila mobil, pesawat atau kapal yang ditumpanginya, ataupun hewan (yang ditungganginya) itu bergerak sehingga arah kiblat berpindah. Kecuali bila memungkinkan baginya untuk turun dari kendaraannya, maka ia sholat seperti biasanya.

Tentang safar, tidak ada batasan jarak tertentu dengan ukuran kilometer atau marahil. Karena ketika Alloh menyebutkan safar dalam Al Qur’an berkaitan dengan qashar sholat ataupun kebolehan berbuka (tidak puasa) di bulan Ramadhan, Alloh menyebutkan safar secara mutlak, tanpa menerapkan batasannya. Bisa kita lihat hal ini dalam firman-Nya :

“Apabila kalian melakukan perjalanan di muka bumi (safar) maka tidak ada dosa atas kalian untuk kalian meng-qashar sholat.” QS. An-Nisaa’ ; 101

Lafadz diatas merupakan ungkapan dari safar, dimana Alloh menyebutkannya secara mutlak (tanpa pembahasan ini dan itu…pent)

Demikian pula dalam firman-Nya :

“Siapa diantara kalian yang sakit atau dalam keadaan safar, maka (ia boleh meninggalkan puasa) dengan menggantinya pada hari-hari yang lain.” QS. Al-Baqarah ; 184

Dengan demikian yang benar dari pendapat yang ada dari kalangan ulama tentang pembatasan jarak safar adalah tidak ada batasannya. Setiap itu disebut safar, menurut kebiasaan (‘urf) dan menurut pengertian syar’i, berarti itulah safar, baik jaraknya jauh ataupun dekat. Perjalanan tsb safar menurut kebiasaan yang dikenali di tengah manusia. Dari sisi syar’i memang orang yang menempuhnya bertujuan untuk safar. Karena terkadang kita dapati ada orang yang menempuh jarak jauh bukan untuk safar, seperti kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

“Terkadang seseorang keluar dari negerinya untuk berburu. Lalu ia tidak mendapatkan buruannya hingga ia terus berjalan mencari-cari sampai akhirnya ia tiba di tempat yang sangat jauh. Ternyata di akhir pencariannya ia telah menempuh jarak yang panjang, ratusan kilometer. Kita menganggap orang ini bukanlah musafir, padahal bila orang yang keluar berniat safar dengan jarak yang kurang daripada yang telah ditempuhnya telah teranggap musafir. Tapi pemburu ini keluar dari negerinya bukan bertujuan safar sehingga ia bukanlah musafir. Berarti yang namanya safar harus menuruti ‘urf (adat masyarakat) dan sesuai pengertian syar’i.” [Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal.227]

oleh : ummu salamah in Fatawa. Ditandai:pesawat, puasa, qashar, safar dan sholat

Monday, July 11, 2011

Bulan sya’ban : Bulan yang mulya, penuh berkah dan kebaikan


Bulan sya’ban adalah salah satu bulan yang mulya, penuh berkah dan kebaikan. Ketaatan di dalamnya adalah perdagangan yang menguntungkan dan amal sholeh pada bulan ini adalah jalan meraih kesuksesan untuk menghadapi bulan Ramadhan.

Sebab disana ada keterkaitan yang kuat antara Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Sehingga dikatakan bahwa Rajab adalah bulan menanam benih kebaikan atau amal sholeh, Sya’ban bulan untuk menyirami dan memupuk dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen tanaman yang tumbuh dari benih itu.

Kebiasaan para pendahulu kita, jika tiba bulan sya’ban mereka merayakan dan memulyakannya dengan bearaneka macam ibadah dan amal sholeh, seperti taubat, dzikrullah, ziarah kepada Rasulullah, umrah dan lainnya. Memang seyogyanya beribadah tidak hanya pada bulan tertentu, tapi mereka yang memiliki mata hati dan pengenalan hakikat keberadaan bulan ini lebih mengkhususkan dan menambah porsi dan kualitasnya

Menilik bahwa bulan sya’ban ini penuh rahasia dan nilai historis (sejarah) yang sangat berharga yang tidak dapat dilupakan manusia.
Cukup menunjukkan keagungan bulan ini dimana Rasulullah menisbatkannya kepada diri beliau dengan sabdanya :
“ Sya’ban adalah bulanku “ ( HR. Ad dailami dari Anas bin Malik dan diriwayatkan juga oleh Al Fath bin Abil Fawaris dari Al Hasan Al Bashri dengan status Hadits Mursal )

Dalam riwayat Ad dailami dari As Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad saw bersabda (yang artinya):
“ Sya’ban adalah bulanku dan ramadhan bulan Allah, sya’ban adalah penyuci dan Ramadhan adalah penggugur (dosa) “

Maka dari sinilah kemudian ulama menyebutkan pula bahwa sya’ban adalah bulan sholawat kepada beliau saw. As sayyid Muhammad Alawy al Maliki al Hasani berpendapat bahwa rahasia kenapa Nabi saw menisbatkan sya’ban kepada beliau, karena pada bulan inilah turun ayat sholawat dan salam kepada beliau saw (surat al Ahzaab ayat 56).

Memang demikianlah dikatakan sebagian besar ulama bahwa ayat tersebut diturunkan pada bulan sya’ban, seperti al Imam Ibnu Shoif al Yamani dan al imam Syihabuddin al Qusthullany. Al Imam Ibnu Hajar al ‘Asqolani menyebutkan bahwa ayat tersebut diturunkan pada tahun kedua Hijriyah.

Dan begitu pula bulan ini menjadi begitu mulya karena ternyata dalam beberapa hadits diterangkan bahwa beliau saw memperbanyak puasa sunnah didalamnya. Maka kita sebagai umat beliau seharusnya mengikuti langkah beliau, itulah cerminan mahabbah kita kepada beliau yang akhirnya membuahkan kecintaan Allah swt.

Suatu ketika Nabi ditanya tentang puasa yang paling utama setelah Ramadhan, beliau bersabda:
“ Puasa di bulan sya’ban untuk memulyakan Ramadhan “ (HR. At Tirmidzi)
Bahkan As Sayyidah Aisyah berkata:
“ Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku tidak melihat beliau berpuasa (selain Ramdhan) lebih banyak daripada pada bulan Sya’ban “. (HR. Al Bukhori, Muslim dan Abu Dawud)

Dalam riwayat Al Bukhori yang lain, As Sayyidah Aisyah berkata:
“ Beliau saw berpuasa pada bulan sya’ban seluruhnya “.

Dalam kitabnya Maadza fii sya’ban, as Sayyid Muhammad Alawy al Maliki menyebutkan bahwa beliau saw mengkhususkan sya’ban dengan banyak puasa sunnah di dalamnya adalah untuk mempersiapkan diri menghadapi dan menyongsong Ramadhan, sebagaimana sholat sunnah rawatib dilakukan untuk mempersiapkan diri memasuki sholat fardhu.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh An Nasai dan ahmad bin Hambal dalam Musnadnya, usamah bin Zeid RA bertanya kepada Rasulullah SAW kenapa beliau banyak berpuasa di bulan sya’ban daripada bulan lainnya, Rasulullah menjawab:
“ Itu (sya’ban) adalah bulan dimana banyak orang lalai di dalamnya, yakni antara rajab dan ramadhan, bulan ini adalah bulan dimana amal-amal disodorkan kepada Allah Pencipta sekalian alam, maka aku suka agar diangkat amalku dalam keadaan berpuasa “.

Hadits ini pula yang menjadikan bulan sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu bulan dimana amal-amal setiap hamba diangkat dan dihadapkan kepada Allah swt.
Dan ternyata penyodoran amal ini tidak hanya pada bulan sya’ban saja. Hanya saja di bulan sya’ban ini dikatakan sebagai penyodoran amal tahunan. Padahal ada pula penyodoran amal mingguan dan harian.

Sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :
“ Saling silih berganti kepada kalian malaikat di waktu malam dan malaikat di waktu siang, dan mereka berkumpul pada sholat subuh dan sholat ashar, kemudian malaikat yang bermalam bersama kalian naik (ke langit), lalu Allah bertanya kepada mereka:”Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaku?” (padahal Dia lebih mengetahui), malaikat menjawab:”kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan sholat”.
Ini adalah penyodoran amal harian, setiap waktu subuh dan ashar.

Adapun penyodoran amal dalam sepekan (sejum’at), yaitu setiap hari senin dan kamis, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah saw bersabda:
“ Amal-amal disodorkan kepada Allah swt setiap hari kamis dan senin “
Dalam riwayat at Tirmidzi yang lain Nabi saw bersabda:
“Amal-amal disodorkan kepada Allah swt setiap hari senin dan kamis, maka aku ingin agar amalku diangkat dalam keadaan berpuasa“.

Untuk menunjukkan kemulyaan bulan ini pula, sya’ban dinamakan syahrul quran (bulan al quran). Memang setiap saat kita sangat dianjurkan membaca al quran, lebih-lebih di waktu yang mulya seperti ramadhan dan sya’ban dan di tempat yang terhormat seperti Makkah al Mukarromah, Raudhoh As Sarifah dan lainnya.

Adalah al Imam ‘Amr bin Qais al Malai jika tiba bulan sya’ban beliau menutup tempat ibadahnya dan menghabiskan waktu disana dengan membaca al quran. Maka dikatakan oleh al Imam as Syeikh Ahmad bin Hijazi bahwa salafussholeh senantiasa menghabiskan waktu pada bulan sya’ban ini dengan membaca al quran, maka ikutilah langkah mereka dan berjalanlah di belakang mereka.

Dinukil dari kitab Maadza fii sya’ban dan Dzikraayat wa munaasabaat, keduanya karya Al Imam al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alawy al Maliky Rahimahullah.

dikutup dari : http://madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=1&var=detail&id=351

Malam Pertengahan Bulan (nishfu sya’ban)



Sya'ban telah menghampiri kita, bulan dengan segala keistimewaan dan peristiwa mulia di dalamnya. Tak terkecuali dengan terdapatnya satu malam yang mulia dan penuh keberkahan yaitu malam pertengahan bulan (nishfu sya’ban). Pada malam ini Allah SWT menampakkan dan mencurahkan rahmat dan ampunan kepada hambaNya. Barangsiapa berdo’a maka do’anya diijabah, barangsiapa meminta agar dihilangkan kesusahannya maka akan dipenuhi permintaan itu dan pada malam ini pula Allah mencatat rizqi-rizqi serta amal-amal hamba.

Malam Nishfu Sya'ban adalah malam yang mempunyai banyak fadhilah atau keutamaan. Dalam kitab Zubdah Al-Wa`izhin terdapat hadits yang diriwayatkan dari Abi Nashr bin Said, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tatkala datang malam ketiga belas bulan Sya`ban, pernah datang kepadaku Malaikat Jibril seraya berkata, `Wahai Muhammad, bangunlah engkau, karena sesungguhnya telah datang waktu bertahajjud, supaya engkau dapat memohon kepada Allah atas keselamatan umatmu" Maka Nabi pun melakukan itu.

Lalu datang pula Malaikat Jibril ketika fajar subuh bersinar, seraya berkata, "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan kepadamu sepertiga dari umatmu". (yakni agar beliau dapat memberikan syafaat kepada mereka)
Maka menangislah Nabi SAW sambil mengatakan, "Wahai Jibril, beritakanlah kepadaku tentang umatku yang dua pertiga lagi."
Jibril menjawab, "Aku tidak tahu."

Lalu datang lagi Jibril pada malam yang kedua (yaitu malam yang keempat belas Sya`ban) seraya berkata, "Wahai Muhammad, bangunlah engkau dan bertahajjudlah."
Maka Nabi SAW pun melakukan itu.

Lalu datang lagi Malaikat Jibril pada waktu fajar, seraya berkata, "'Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah memberikan kepadamu akan dua pertiga umatmu."
Maka Nabi pun menangis seraya berkata, "Wahai Jibril, beritakanlah kepadaku tentang sisa umatku yang lainnya."

Jibril menyahut, "Aku tidak tahu."
Kemudian datang lagi Jibril pada malam Bara'ah (malam kelepasan, pembebasan dari belenggu kesulitan, yaitu malam kelima belas Sya'ban), seraya berkata, "Kabar gembira untukmu, wahai Muhammad. Sesungguhnya Allah telah memberikan untukmu seluruh umatmu yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu."

Malam Nishfu Sya`ban adalah malam kelepasan. Pada malam itu umat Nabi Muhammad SAW sangat patut bersyukur dengan melakukan berbagai ibadah yang diridhai. Terdapat banyak keterangan mengenai keutamaan malam Nishfu Sya`ban dan fadhilah menghidupkannya.
Telah diriwayatkan dalam beberapa hadits tentang kemuliaan malam ini, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Ath Thabaraniy dan Ibnu Hibban dari sahabat Mu’adz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):

“Allah SWT memandang kepada seluruh makhlukNya pada malam nishfu sya’ban dan memberikan ampunan kepada seluruh makhlukNya kecuali orang yang musyrik dan musyaahin”

Musyaahin adalah orang yang menyalakan api permusuhan dan merusak antara dua orang yang saling kasih.
Juga diriwayatkan oleh Al Imam Al Baihaqiy dari As Sayyidah ‘Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):
“Telah datang Jibril kepadaku seraya berkata: malam ini adalah nishfu sya’ban dan pada malam ini Allah SWT membebaskan dari neraka manusia sebanyak bulu kambing bani kalb, pada malam ini Allah tidak melihat dengan pandangan rahmat kepada musyrik, musyaahin, pemutus silaturrahim, orang yang durhaka kepada orang tuanya dan peminum khamr”.
Dalam redaksi yang lain Al Imam Al Baihaqiy meriwayatkan hadits dari Utsman bin Abil ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):

“Jika tiba malam nishfu sya’ban terdengar seruan yang berkata: siapakah yang hendak meminta ampun (pada malam ini) maka Aku akan ampuni, siapakah yang meminta sesuatu maka Aku akan berikan, tidak seorangpun yang memohon kepadaKu kecuali pasti Aku kabulkan hajatnya kecuali pezina dan musyrik”.

Pada bagian lain Al Imam Al Baihaqiy juga meriwayatkan dari Al ‘Alaa’ bin Harits, bahwasannnya As Sayyidah ‘Aisyah berkata:
“suatu malam Rasulullah sholat lalu beliau memanjangkan sujudnya sehingga aku menyangka bahwa beliau telah meninggal, manakala aku menyaksikan itu aku bangkit lalu aku gerakkan ibu jari beliau, dan jari-jari beliau bergerak. Maka aku kembali ke tempatku.

Setelah beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan menyelesaikan sholatnya beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah tahukah kamu malam apakah ini?”, aku berkata: Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Beliau SAW melanjutkan: “Malam ini adalah malam nishfu sya’ban, sesungguhnya Allah SWT pada malam nishfu sya’ban melihat dengan pandangan rahmat kepada hambaNya, maka Dia memberikan ampunan kepada yang meminta ampunan dan merahmati kepada yang memminta rahmat dan Dia membiarkan orang yang iri dengki (tidak mendapat bagian dari rahmat itu)”.


Nama-nama malam nishfu sya’ban

Sebagian ulama menyebutkan bahwa malam nishfu sya’ban memiliki banyak nama, dan sudah menjadi maklum bahwa banyaknya nama menunjukkan kemulyaan yang mempunyai nama itu. Bahkan al Imam Abul Khoir Ath Thaliqani menyebutkan tidak kurang 22 nama nishfu sya’ban, diantaranya :

Lailatul Mubaarokah (Malam keberkahan)

Artinya malam itu sendiri memiliki keberkahan, atau karena makna dan rahasia yang terdapat didalamnya atau karena dekatnya malaikat kepada manusia pada malam itu.

Lailatul qismah (Malam pembagian)

Yaitu pembagian rizqi dan penentuan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Atho’ bin Yasar, beliau berkata:
“Jika tiba malam nishfu sya’ban malaikat maut menghapus setiap nama orang yang ditakdir akan mati pada sya’ban itu sampai sya’ban yang akan datang, dan sesungguhnya seseorang berbuat kedholiman dan kekejian atau menikahi wanita atau menanam pepohonan padahal namanya telah dipindah dari (catatan) golongan orang-orang yang hidup ke dalam (catatan) golongan orang-orang mati dan tidak ada malam yang lebih mulia setelah malam Lailatul Qadr daripada malam nishfu sya’ban”

Lailatut Takfiir (Malam pengguguran dosa)

Al Imam Taqiyuddin As Subki RA menyebutkan dalam tafsirnya bahwasanya malam nishfu sya’ban menggugurkan dosa selama setahun dan malam jum’at menggugurkan dosa sepekan dan malam lailatul qadr menggugurkan dosa seumur hidup.

Lailatul Ijaabah (Malam pengabulan doa)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, beliau berkata :
“Terdapat lima malam yang tidak akan tertolak doa ( si hamba ), yaitu malam jum’at, awal malam bulan rajab, malam nishfu sya’ban, malam lailatul qadr dan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha).

Lailatu ‘iidil malaaikah (malam hari raya malaikat)

Al Imam Abu Abdillah Thohir bin Kuhammad bin Ahmad al Haddadi ra menyebutkan dalam kitabnya ‘Uyuunul Majaalis :
“ Sesungguhnya para malaikat di langit mempunyai dua hari raya sebagaimana kaum muslimin, adapun hari raya malaikat adalah malam nishfu sya’ban dan malam lailatul qadr sedangkan hari raya muslimin adalah idul fitri dan idul adha. Hari raya malaikat malam hari karena mereka tidak tidur, jadi siang dan malam sama di hadapan mereka, sedang hari raya muslimin pada siang hari karena malam adalah waktu mereka tidur dan beristirahat “.

Lailatusy Syafa’ah (Malam pemberian syafa’at)

Nama ini diberikan oleh al Imam Abu Manshur Muhammad bin Abdillah al Hakim an Naisaaburi dan ulama lainnya.

Lailatul Baraa ah (malam pembebasan)

Yang dimaksud adalah dibebaskan dari neraka Allah, yang demikian ini diberikan kepada mereka yang melaksanakan hak-hak Allah dan melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Lailatut Ta’dziim (malam kemulian)

Nama ini diberikan oleh Taqiyuddin as Subki ra dalam tafsirnya.
Lailatul ghufraan wal ‘itq minan niiraan (malam pengampunan dan pembebasan dari neraka)
Keterangan ini disebutkan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan yang ditulis oleh as Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hijazi Rahimahullah.

Dengan keterangan diatas kita dapat mengetahui betapa agung malam nishfu sya’ban itu. Sehingga ketika kita sudah mengetahui kemuliaannya maka hendaknya kita mempergunakan kesempatan umur dengan banyak beribadah pada malam ini, entah dengan sholat, dzikir, sholawat atau doa-doa yang biasa dibaca oleh kaum muslimin. Doa-doa itu ditulis oleh ulama pendahulu kita agar dibaca guna memulyakan dan menyemarakkan malam nishfu sya’ban sehingga umur dan waktu kita tidak berlalu begitu saja. Dan di dalam semua itu terdapat fadhilah dan pahala yang besar. Wallahu A’lam.

dikutif dari : http://madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=1&var=detail&id=352